Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Tafsir As-Shawi dan Refleksi Hierarki Psikologi Maslow
Abstract
Kisah Israiliiyat memang menarik untuk selalu dibahas dalam kitab Hasyiyatu As-Shawi Kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail pada QS. Assaffat ayat 100-107 mengisahkan kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya yaitu nabi Ismail kemudian kisah ini dapat dianalisis menggunakan hierarki kebutuhan Maslow, yang terdiri dari lima tingkatan: kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Dalam kisah ini, kebutuhan fisiologis Nabi Ismail dipenuhi melalui mukjizat mata air Zamzam, sementara kebutuhan keamanan diuji melalui perintah penyembelihan. Aspek sosial terlihat dalam hubungan erat antara ayah dan anak yang dilandasi keimanan, sedangkan penghargaan tercermin dalam penghormatan umat Islam terhadap ketakwaan mereka. Puncaknya, aktualisasi diri Nabi Ibrahim tercapai melalui kepasrahan total kepada Allah, yang menjadi tujuan tertinggi manusia dalam Islam. Analisis ini menunjukkan bahwa keimanan kepada Allah melampaui hierarki kebutuhan manusia dan membawa kepada ketenangan serta penghargaan sejati.
Keywords
References
Aplikasi NU Online , Tafsir Tahlili..
As-Shawi, A. B. (t.thn.). Hasyiyatu As-Shawi. Beirut: Ad-Dar Al-Kutub.
Calicchio, S. (2023). Abraham Maslow dari Hierarki Kebutuhan Hingga Pememnuhan Diri.
Nazhifah, D. (2020). Tafsir-Tafsir Modern dan Kontemporer Abad Ke 19-21 M. Jurnal Iman.
Shihab, M. Q. (2012). Wawasan Al-Qur'an. Bandung: Mizan.
Zed, M. (2004). Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
DOI: https://doi.org/10.61689/inspirasi.v9i2.932
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


